Alamat E-mail : neoaugust@ymail.com
Home » » Ballad pour adelline, kisah desau cemara dalam hidup anak manusia

Ballad pour adelline, kisah desau cemara dalam hidup anak manusia

Written By Kampoeng LAMPION™ on Sabtu, 21 Juni 2014 | 2:54:00 AM

 21 Juni 2014 pukul 2:36

oleh Bunda Rara

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203993461379522&set=a.1605356976477.2086673.1312724617&type=1&theaterMengakhiri penat seharian sembari menyeruput kopi di beranda depan, ditemani gemerisik pucuk-pucuk cemara yang berayun lembut terbuai sepoi angin sore, adalah satu ritual yang sangat digemari Ardi.  Pada saat itu, suamiku selalu tampak berbeda.  Sorot matanya bagaikan telaga tanpa dasar yang begitu kelam dan menyimpan banyak kisah.  Selama beberapa jenak dia akan kehilangan kepeduliannya pada dimensi yang mengitarinya.  Bahkan ketika aku, istrinya yang jelita ini, duduk di sisinya, dia sama sekali tak menaruh perhatian. 
Aku ingat ketika putri kedua kami lahir, dan kami pindah ke rumah ini, sekitar tujuh tahun yang lalu.  Ardi sendiri yang menanam pohon pohon cemara itu di sepanjang jalan masuk dari pintu pagar ke pintu depan.  Dia sendiri yang menyiram tanaman itu pagi dan sore, memberinya pupuk.  Hingga pohon-pohon itu tumbuh pesat dan kini sudah setinggi hampir tiga meter.  Ketika aku bertanya mengapa dia begitu menggemari cemara, dia hanya tergelak dan mengacaukan rambutku dengan sayang.  "Aku suka desaunya kala terayun angin, seperti menyenandungkan melodi yang sangat indah."
"Ah...bukannya Papa pernah punya gadis bernama cemara?"  Godaku sembari bergayut di lengannya.  Ardi tertawa dan mengecupku lembut.  "Apaan sih Mama ini?"  Dikecupnya puncak hidungku.  "Kalaupun gadis itu pernah ada, semua sudah terkubur dan tak akan muncul lagi, Adellina Ardi adalah satu-satunya wanita yang memiliki seluruh hidup Ardi sekarang dan selamanya." 

***

Mengingat begitu berartinya ritual itu baginya, aku sempat terperanjat ketika sore itu sepulang kantor, Ardi mengajakku dan dua putri kami untuk menghabiskan senja di salah satu kafe dekat perumahan kami.
"Ritual soremu?"  Tanyaku sembari melepaskan dasinya.  Kupandang lekat-lekat matanya.  Tetapi Ardi menghindar sembari mendaratkan kecupan ringan di keningku. 
"Aku mandi dulu yang Say, tolong siapin anak-anak...pengen banget malam ini kita habiskan di luar."
"Kamu gag capek?"  Keluhku sembari membayangkan sia-sianya aku pontang-panting menyiapkan makan malam kami.  Aku bukan seorang istri yang jempolan di dapur, masakanku lebih sering disebut parah daripada menggugah selera.  Pada salah satu titik, timbul juga keinginanku untuk menjadi istri dan ibu yang jempolan di dapur.  Karena itu tadi siang sepulang menjemput anak-anak dari sekolah, aku mampir ke salah satu swalayan dan memilih bahan-bahan terbaik untuk membuat sup sehat ala resto.  Sup itu sudah matang, dan aku juga sudah menggoreng beberapa potong ayam goreng (yang ini jelas buatan warung langgananku).  Sayang sekali kalau makan malam itu batal kami nikmati. 
"Kita makan sedikit saja di luar.  Biar masakanmu tidak sia-sia.  Oke?"  Ardi tampaknya bisa membaca pikiranku.  Aku tersenyum tipis.  Apalagi yang bisa kukatakan?

***
"Mama...lihat Ma....orang itu masih berayun di sana!"  Prita, putri kecilku, menunjuk seorang perempuan berpakaian kotor dan bertampang kumal yang berdiri di pintu pagar kami.  Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu, dia bersenandung kecil sembali berayun-ayun seolah sedang menidurkan seorang bayi.  Kedua tangannya berpegangan pada jeruji pagar, dan sorot matanya kosong memandang ke halaman depan rumah kami.
"Bukan orang itu, Prita."  Tegurku pelan.  "Ibu itu sakit, mungkin dia lapar.  Coba ambilkan roti coklat di meja, masih ada kan?"
"Ada Ma...biar aku yang kasih..."  Adel, putri sulungku yang menjawab.  Ketika dia akan melangkah keluar pintu depan, tiba-tiba langkahnya terhenti.  "Dia nggak apa-apa kan Ma?"
"Kenapa emangnya?"  Sergahku heran.  "Dia sakit, tapi tampaknya dia tidak berbahaya."  Adel tertawa kecil.  Lalu melanjutkan langkahnya.  Sementara Prita malah menggulung dirinya di balik tirai.  "Kenapa denganmu Prit?" 
"Kenapa emangnya?"  Prita menirukan ucapanku sembari tersenyum lebar.  "Mbak Adel pasti menyesal sudah mendekati orang gila itu!"
Dari jauh kami melihat Adel mendekat ke pintu pagar, mengulurkan tangannya yang memegang roti coklat itu ke arah perempuan itu.  Perempuan itu tampak menyambut lalu tertawa lebar.  Adel melangkah mundur, bersidekap dan memandang takjub pada perempuan itu.  Sesaat kemudian dia kembali ke beranda depan.
"Perempuan itu cantik, Ma.  Setidaknya, dulu dia adalah seorang wanita cantik."
"Siapa yang cantik nih?"  Tiba-tiba saja Ardi sudah berdiri di belakangku, memeluk pinggangku dan mendaratkan kecupan di puncak kepalaku.  "Mama kalian ini wanita paling cantik di dunia."
"Uh...Papa lebay!"  Adel menggerutu pendek.  "Jadi makan di luar Pa?"
"Jadi dong...Papa sudah keren begini..gimana sih?"
Koor sumbang kedua putriku menyambut kalimat terakhir Ardi.  "Nanti kita bungkuskan nasi untuk Ibu itu ya Pa?"  Tanya Adel pada ayahnya.  "Kasian dia, tadi cuma ada sepotong roti coklat kecil...kecuali...Mama mengizinkanku memberikan sepotong ayam goreng padanya."  Adel melirikku dengan tatapan menggoda.
"Ibu?"  Ardi menggedikkan bahunya ketika Prita menunjuk sosok wanita di pintu pagar itu.  "Kenapa tidak minta Pak Budi mengusirnya?  Bahaya tuh!"  Aku memandang suamiku dengan sorot heran.  Tentu saja aku terheran-heran, karena nada ucapannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia keberatan dengan keberadaan perempuan itu di pintu pagar rumah kami.  Dia seperti melamun.  Dan aku terkesima ketika mendapati telaga kelam itu muncul di sepasang mata suamiku, telaga kelam yang biasanya hanya muncul ketika dia menikmati ritual sorenya di beranda depan.  Kutarik lengan kirinya lembut. 
"Papa baik-baik aja?" 
"Heh."  Ardi seperti tergugah dari satu episode mimpi yang membuatnya gamang.  Senyum hampa tersungging di ujung bibirnya.  "Sepertinya lebih baik kita makan malam di rumah saja.  Tiba-tiba saja perut Papa berasa penuh."  Tanpa menunggu persetujuan kami, Ardi berbalik ke arah kamar, sejenak kemudian terdengar suara pintu kamar mandi dihempaskan, diikuti suara air kran yang diputar penuh.  Aku mengangkat bahu.  Sungguh janggal sikap suamiku. 
"Sudah...ganti baju gih....kita siapkan makan malam."  Dengan lembut kuusap kepala Prita yang tampak sedikit kecewa.  "Setidaknya, kita tidak harus tidur dengan perut kekenyangan kan...." 
"Heran...Papa itu aneh...Papa sendiri yang ngajak kita keluar, giliran kita udah siap...eh...malah Papa yang mutung." Adel mencibirkan bibirnya dengan gemas.  "Gak biasanya Papa seperti ini."

***

"Kenapa dia masih ada di situ?"  Ardi melepaskan dasinya dengan sekali sentak, akibatnya, tanganku yang sudah terulur untuk membantunya melepaskan dasi seperti tertampar.  "Belum diusir sama Pak Budi?"
"Sudah...tadi pagi sudah digiring ke luar perumahan sama Pak Budi dan Pak Ikrom.  Tapi sore tadi waktu Mama siram tanaman, dia sudah ada di sana lagi.  Berayun-ayun dalam dunianya sendiri."
"Huft!"  Ardi seolah mengeluh putus asa.  "Biar Papa telpon sekuriti komplek.  Gak bisa dong orang gila seperti itu dibiarkan masuk perumahan kita."
"Biarin aja kenapa sih Pa?  Toh dia tidak berbahaya.  Kasihan dia."  Aku teringat mata perempuan itu yang kosong, senyum yang tak pernah lepas dari ujung bibirnya, dan senandung kecil tanpa arti yang mengiringi gerakannya mengayun tubuh.  Entahlah, ada rasa iba yang sangat dalam menyeruak hatiku.  "Mama kasihan padanya.  Sepertinya....sepertinya dia punya masa lalu yang indah, tetapi masa lalu itu dirampas dari hidupnya, hingga dia jadi seperti sekarang ini."
Ardi diam tak menjawab.  Sesaat kemudian dia sudah menghilang dalam kamar mandi diiringi suara pintu yang berdebum.   Aku mengangkat bahu sembari mengeluh pendek.  Tidak biasanya suamiku seperti ini.


***

Siang ini terasa begitu lengang dan sepi.  Beberapa kali aku mengirim pesan ke teman-teman bbm ku.  Tetapi satu pun tak ada yang membalas.  Mungkin mereka semua tengah sibuk.  Sedangkan aku...seperti biasa, sudah menyiapkan makan siang sederhana.  Nasi putih yang masih mengepulkan uap panas, semangkuk oseng buncis manis, tempe goreng crispy, ayam goreng kesukaan anak-anak, dan krupuk.  Cukup tahu saja, yang benar-benar hasil karyaku adalah nasi putih dan tempe goreng crispy.  Lainnya, hasil kerja warung langgananku.  Karena itu waktuku lebih banyak kosong.
Aku membuka pintu depan, meletakkan tubuhku di kursi beranda.  Memandang pucuk-pucuk cemara yang bergoyang manja.  Dan pandangan mataku terhenti di pintu pagar.  Perempuan itu kembali lagi.  Ya ampun!  Aku menghela napas panjang lalu membuangnya keras-keras.  Sudah empat hari ini Ardi uring-uringan.  Setiap kali dia pulang, ritual sorenya yang sangat berarti itu tak lagi menarik baginya.  Dia memilih untuk segera mandi dan menikmati kopinya sembari nonton televisi.  Alasannya, perempuan di pintu pagar itu membuatnya muak. 
Takjub aku memandang sosok perempuan yang berayun di pintu pagar itu.  Entah bagaimana caranya, dia bisa kembali ke pintu pagar rumah kami.  Padahal tadi pagi Pak Ikrom dan salah satu sekuriti komplek sudah mengusirnya keluar perumahan.  Aku berpikir tentang dinas sosial, lalu menghela napas panjang.  Ah, masa iya mereka mau menerima perempuan seperti ini?  Kalau memang dinas sosial mau menerima dan merawat mereka, tentu tak ada satu pun orang gila yang berkeliaran di kota ini.
Tanpa kusadari, aku sudah berdiri dari kursi beranda, seolah ada kekuatan yang sulit kulawan yang membawaku melangkah mendekat ke pintu pagar, tepatnya, ke arah perempuan yang tengah berayun di sana.  Dan di sinilah aku, berdiri hanya sekitar lima puluh sentimeter dari perempuan itu.   Menatap lekat wajahnya yang kotor, menatap matanya yang kosong, menatap senyumnya yang tanpa arti, dan sejenak terkesima ketika mengenali senandung kecilnya.  Rangkaian nada yang lekat di benakku, bagaimana tidak, lagu itulah yang membuat Ardi memohon dengan sangat agar putri sulung kami diberi nama Adelline, karena dia begitu menyukai instrumen gubahan Paul de Senneville dan Olivier Toussaint tersebut. Ballad pour Adelline...  Astaga... siapa sebenarnya perempuan ini?  Aku memandangnya lekat-lekat, dan teringat kata-kata Adel...perempuan ini cantik, dia pernah menjadi seorang perempuan cantik jelita.... 
Sebelum aku menyadari, tanganku sudah terulur menyeruak sela-sela jeruji pagar, meraih tangannya yang tergantung di sisi tubuhnya.  Tanpa rasa risih, aku genggam tangannya.  Ada rasa hangat menyusup dalam sanubariku, rasa yang asing dan sulit kupahami. 
"Ardi....Ardi kemana...."  Samar kudengar suaranya berbisik.  Sesaat aku gamang, detik berikutnya kesadaranku pulih.  Kutarik tanganku kuat-kuat, lalu kukibaskan sekuat tenaga.  Aku melihat mata kosong itu penuh air mata.  Perempuan itu menangis dan menyebut nama suamiku.  Astaga....sebenarnya aku tengah bermimpi atau tidak?

***

"Apa maksudmu?"  Ardi meletakkan cangkir kopinya ke atas meja.  Menatapku dengan sorot marah.  "Perempuan gila itu menyebut namaku?  Lalu dia menyenandungkan ballad pour adelline yang kebetulan adalah melodi favoritku?  Terus kenapa?"
"Enggak....Mama cuma bingung aja..."
"Bingung apa?  Apa yang Mama pikirkan?  Papa ada hubungan dengan perempuan gila itu?  Mikir dong Ma...mikir...dia gila...sudah biasa orang gila ngomel tidak karuan seperti itu."  Ardi menghela napas panjang.  "Papa mau mandi dulu, terus Papa mau jalan-jalan sebentar.  Pusing!"
Tidak seperti biasanya, aku diam tak bereaksi ketika Ardi meninggalkan kopinya di atas meja begitu saja, melangkah ke kamar tanpa mempedulikanku.  Aku masih diliputi banyak pertanyaan yang sulit untuk kumengerti.  Apakah semua ini hanya kebetulan?

***

Hampir tengah malam barulah Ardi pulang.  Ketika dia masuk ke kamar, aku berbaring menghadap tembok, sambil membayangkan, apa yang tengah dilakukan lelaki terkasih itu.  Sudah cukup lama kami tidak bertengkar, dan sekali ini, aku benar-benar marah dengan sikapnya.  Demi Toutis, aku tidak ingin memaafkannya begitu saja.  Kudengar dia mengganti bajunya dengan kaos rumah.  Masuk ke kamar mandi sejenak.  Kemudian berbaring di sisiku.  Hening. Diam.  Aku berpikir tentang dengkur halus yang sebentar lagi pasti aku dengar.  Tetapi tidak, hampir dua puluh menit, tak juga kudengar dengkur halus itu.  Aku mencoba memejamkan mataku, aku harus tidur.  Tetapi kemarahan membuatku sulit untuk jatuh terlelap.
"Ma....."
"Ya."
"Papa mau cerita."
Aku membuang napas keras.  Lalu pelahan berbalik menghadap ke arah Ardi.  Ardi juga berbalik ke sisi kanan tubuhnya.  Kami berbaring berhadapan.  Di dalam kegelapan ruang kamar, kami saling memandang.
"Papa sayang Mama..."  Bisik Ardi lembut.  Diraihnya kepalaku lalu dikecupnya puncak kepalaku lembut.  Mataku terasa panas.
"Ya...Mama juga sayang banget sama Papa."
Ardi menghela napas panjang.  "Perempuan itu bernama Adelia."  Aku menahan napasku.  Jadi benar, Ardi mengenal perempuan yang berayun di pintu pagar rumah kami itu.  "Dia pernah menjadi kekasih Papa, jauh sebelum Papa kenal Mama."
"Terus?"
"Ya...kami pacaran sejak masih ingusan.  Sejak kecil kami sudah berangan-angan kelak akan menikah setelah sama-sama dewasa."
"Kenapa tidak jadi?"
Suara Ardi serak ketika menjawab.  "Karena memang kami tidak ditakdirkan untuk bersama."  Aku diam, menanti kelanjutan kisahnya.  "Satu hari serombongan pria dari kota datang ke kota kecil kami.  Waktu itu kami baru saja lulus SMA.  Kami tengah mempersiapkan diri untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri.  Ketika pria-pria itu datang, Adel seolah silau dengan keberadaan mereka.  Salah satu pria itu memikat hatinya, dan dia memilih untuk memutuskan hubungan dengan Papa.  Papa begitu sakit, kecewa dan juga marah, tetapi tidak berdaya.  Adel tidak lulus ujian masuk PTN, sedang Papa diterima di Bandung.  Waktu Papa akan berangkat ke Bandung, Papa sempat menemui Adel dan saat itu....ah..."  Suara Ardi semakin parau.  "Papa bilang padanya, dia sudah sangat menyakiti Papa, dan sakit hati itu akan terbalas satu saat...entah bagaimana caranya....pasti ada karma untuk seseorang yang sudah mengkhianati cinta Papa yang begitu tulus."
"Adel gila.  Kenapa dia bisa gila?"
"Pria itu bajingan....dia hanya mempermainkan Adel.  Dia mencampakkan Adel begitu saja setelah tahu Adel hamil.  Waktu itu orang tua Adel menghubungi Papa, memohon kesediaan Papa untuk menikahi Adel.  Gila!  Mereka pikir siapa Papa?"
"Mereka hanya tahu kalau Papa sayang mencintai putri mereka."  Bisikku lirih.
"Ya...tetapi hanya lelaki gila yang mau menikahi perempuan yang sudah mengkhianatinya, bahkan hamil karena pengkhianatan itu."
"Ya...."
"Sesudah itu Papa tidak tahu apa yang terjadi dengan Adel.  Orang tuanya membawa Adel pergi dari desa kami, dan mereka kembali tanpa Adel.  Mereka bungkam, tak mau menjawab apapun ketika ditanya tentang Adel."  Ardi telentang.  Matanya terasa nyalang menatap langit-langit kamar.  "Cemara-cemara itu...ballad pour adelline, semua tidak pernah hilang dari ingatan Papa...bertahun-tahun pernikahan kita, Papa mencoba untuk menghapus kenangan tentang Adel.  Tetapi begitu sulit...."  Aku mendengar suaraku sendiri berbicara, pahit, getir...dan mataku yang terasa panas mulai basah.
Ardi memelukku, menenggelamkan kepalaku dalam pelukan dada bidangnya.  "Ssstttt....itu tidak benar..."
"Ya...semua benar...bertahun-tahun setelah Adel menghilang, Papa bertahan untuk tidak pacaran.  Hingga akhirnya aku muncul, dan Papa melihat banyak kemiripan antara aku dengan Adel, terutama...kepiawaianku memainkan ballad pour Adelline itu....dan nama kami yang hampir sama...  Tetapi Adelia tidak pernah mati dalam pikiran Papa... bahkan cemara-cemara itu...semua papa tanam karena papa masih mencintai Adelia.  Bahkan nama Adelline itu, bukan terinspirasi nama mama, tetapi nama Adelia...."
Dunia kecilku runtuh, meninggalkan puing-puing tajam yang merajah dan menghujam hatiku.  Aku tergugu dalam pelukan suamiku.
"Adelia pernah ada dalam hidup Papa.  Tetapi setelah kita menikah, Adelina Ardi yang mengisi hati dan hidup Papa...."  Bisik Ardi lembut, pelukannya kian erat merangkum tubuh mungilku.
Isak tangisku perlahan mereda.  Terpeta jelas dalam benakku, sorot mata perempuan itu yang kosong, senyumnya yang kosong, dan senandung ballad pour adelline itu....tiba-tiba aku merasa menjadi perempuan paling kejam di dunia.
"Besok pagi-pagi, tolong papa telpon sekuriti komplek.  Minta mereka bantu kita untuk membawa Adelia ke Lawang.  Siapa tahu dia bisa sembuh... setidaknya...kalau pun tidak sembuh, di sana dia akan mendapat perawatan yang semestinya."
"Mama....."
"Ya...bagaimanapun Adelia manusia yang berhak untuk hidup layak.  Dan.... bagaimanapun juga....dia pernah ada dalam hidup Papa, meski meninggalkan luka yang sangat dalam...  Apapun kesalahannya, Mama harus berterima kasih padanya.  Kalau dia tidak membuat kesalahan fatal seperti itu, Mama tidak akan mendapatkan seorang suami yang begitu hebat dan ayah yang luar biasa bagi anak-anak Mama." 
Ardi mengacaukan rambutku dengan gemas, kebiasaannya sejak kami pacaran.  "Huh...lebay tahu...."

***


setiap orang punya kisah yang berbeda, tak layak membandingkan kisah kita dengan kisah orang lain, yang bisa kita lakukan hanya bersyukur karena kita diberi kesempatan menjalani sebuah kisah....

Share this post :

Posting Komentar